PERAN MASYARAKAT KULIT HITAM/PENDUDUK PRIBUMI AFRIKA SELATAN DALAM PERANG BOER

Perang Boer atau yang juga lebih dikenal dengan Perang Anglo-Boer yang berarti perang antara sesama kaum Kulit Putih tidak hanya semata-mata melibatkan kalangan Kulit Putih saja, tetapi tetap membutuhkan peranan/bantuan dari para penduduk pribumi yang mayoritas berkulit Hitam. Komunitas penduduk Pribumi yang terdiri dari beberapa suku seperti; Zulu, Xhosa, Bakgatla, Shangaan, Sotho, Swazi dan Basotho menjadi ikut terlibat dalam perang tersebut, meskipun telah dibuat semacam perjanjian tidak tertulis diantara para pemimpin Boer dan Inggris bahwa perang tersebut hanya terjadi antara orang-orang kulit putih saja dan orang-orang kulit hitam tidak boleh dipersenjatai. Melalui kesepakatan itulah maka pada awalnya ketika kaum kulit Hitam terlibat dalam perang ini, maka mereka tidak dipekerjakan sebagai tentara yang akan bertempur secara man to man di front, tetapi lebih dijadikan sebagai pekerja yang membantu jalannya perang diantara; menjadi penggali parit pertahanan, pengintai, pengirim kabar, penjarah ternak, penunggang kuda, pekerja buruh dan pencari jejak dan mereka juga dipekerjakan untuk pembangunan benteng-benteng serta masih banyak lagi pekerjaan yang lain diluar tugas ketentaraan.
Mobilisasi masyarakat pribumi sebagai penunjang bagi pihak-pihak yang berperang memang sangat dibutuhkan tidak hanya oleh bangsa Boer tetapi juga oleh pihak Kerajaan Inggris. Keterlibatan bangsa kulit hitam dalam perang, sebagian besar bersifat sukarela meskipun tetap ada sebagian yang bersifat transaksional, seperti yang dilakukan oleh Suku Swazi yang membantu pihak Inggris karena ingin melakukan pembalasan dendam terhadap orang-orang Boer yang telah merampas tanah-tanah mereka pada masa lalu. Orang-orang Swazi termotivasi ikut serta dalam perang dengan tujuan khusus yakni ingin mengklaim kembali tanah mereka yang telah dirampas oleh bangsa Boer.

Keterlibatan suku asli Afrika Selatan dalam perang Boer memegang peranan penting khususnya dalam bidang komunikasi. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan mereka dalam menyampaikan pesan maupun dalam hal melakukan pengintaian. Dalam melakukan tugasnya, para pasukan kulit hitam ini sebagian besar menggunakan kuda dan peralatan-peralatan milik mereka sendiri tanpa harus bergantung pada pihak yang mereka dukung. Sedangkan mengenai jumlah pasti para pasukan penduduk pribumi yang bekerja dengan pihak Boer maupun Inggris sangat susah untuk diklarifikasi jumlahnya, karena tidak adanya catatan yang resmi mengenai hal tersebut, meskipun ada banyak terdapat bukti-bukti berupa gambar/foto yang membuktikan bahwa mereka memang benar-benar terlibat.
Pihak Boer memperkerjakan sejumlah besar pengintai dari kalangan kulit Hitam. Informasi yang disampaikan kepada komandan oleh pengintai kulit hitam merupakan informasi yang sangat akurat dan juga disampaikan secara luar biasa cepatnya. Sedangkan di pihak Inggris, peranana pengintai kulit hitam sangat dirasakan karena mereka menjadi salah satu pihak yang kemudian berperan dalam menentukan berakhirnya perang. Peranan mereka dalam membantu pihak Inggris dalam menyimpakan serangan balasan bagi pihak Boer, serta memecah-belah pasukan musuh hingga tercerai berai sangat tergantung dari informasi mengenai pergerakan pasukan musuh yang telah disampaikan oleh pengintai kulit hitam yang bekerja pada mereka.
Selama pengepungan terhadap Mafeking pada medio Oktober 1889 hingga Mei 1900 (Perang Boer II), pihak kulit hitam turut berkontribusi dalam mempertahankan kawasan tersebut. Selama pertempuran itu, terdapat 500 orang bersenjata dari suku Barolong dan Bakgatla turut ikut mempertahankan pemukiman-pemukiman di kawasan Mafeking. Dalam sebuah kesempatan mereka menyerang dan mengusai sebuah benteng Boer yang yang menjadi lawan mereka. Pada kesempatan itu Mathakgong dari suku Barolong yang kemudian menjadi pahlawan karena mampu mempertahankan saluran komunikasi digaris depan dan bertanggung jawab dalam membawa kembali masuknya sejumlah besar peternak ke dalam perkampungan. Selama pengepungan terhadap Ladysmith pada November 1899 hingga Februari 1900, para pengintai kulit hitam memainkan peranan penting. Para pengintai ini biasanya tidak bersenjata karena tidak diijinkan untuk memegang senjata, akan tetapi menjelang akhir tahun 1901 hampir semua pengintai kulit hitam yang bergabung dengan pihak Inggris dipersenjatai.
Ketika pihak Inggris mulai melaksanakan politik bumi hangus terhadap lahan pertanian milik orang-orang Boer, pada saat yang sama kaum kulit Hitam juga ikut dipindahkan dari kawasan pertanian miliknya untuk kemudian ditempatkan dalam beberapa kamp konsentrasi. Keputusan pihak kolonial Inggris untuk turut memindahkan mereka ke dalam kamp konsentrasi merupakan tindakan yang sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Pada saat itu yang menjadi alasan turut dipindahkannya kaum kulit hitam dari kawasan pertanian adalah untuk mencegah bangsa Boer mendapatkan bantuan dari mereka dalam mengelola lahan pertanian, menyediakan suplai, dan menjadi buruh bagi mereka. Pada sebagian besar kamp konsentrasi, kondisi yang sangat buruk menjadi teman sehari-hari kaum kulit hitam, hal ini dikarenakan tidak adanya bahan yang tersedia untuk membangun rumah dan dan hal inilah yang memaksa mereka membangun tempat berteduh apa adanya berdasarkan bahan yang tersedia oleh alam dilingkungan kamp. Selain itu masalah sanitasi dan pelayanan kesehatan untuk kamp kulit hitam juga sangat terbatas, maka tidak heran ketika perang berakhir, ribuan orang dari kaum kulit hitam harus mati karena serang penyakit seperti tipus, diare dan disentri yang disebabkan oleh buruknya kondisi tempat tinggal mereka.
Pada saat perang telah usai ternyata masalah yang menyangkut nasib kaum kulit hitam masih terus berlanjut, terutama dalam hal jasa dalam perang. Kegagalan dalam menemukan bukti-bukti kontribusi yang telah disumbangkan oleh kaum kulit Hitam dalam perang membuat mereka pada awalnya tidak mendapatkan penghargaan samasekali.

DAFTAR PUSTAKA

Kolit, D.K. 1972, Sedjarah Afrika, Ende,Flores; Nusa Indah
Leo Marquard. The Story of South Africa, London; Faber & Raber Limited
Roland Oliver, & J.D. Fage. 1962, A Short History of Africa, Great Britain; C.Nicholl & Company.
Ronald Robinson & John Gallagher. 1963, Africa and The Victorians, London; Macmillan & Co Ltd
Suratman, Darsiti. 1965, Sedjarah Afrika Zaman Imperialisme Modern, Yogyakarta; Vita

http://samilitaryhistory.org/vol113nn.html

mohon dicomment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s