Salahkah Fenomena Golput Dalam Pesta “Demokreasi” ???

Agenda lima tahunan yang selalu dinanti nantikan oleh segenap rakyat Indonesia menyimpan kisah tersendiri bagi para voters. Para pemilik hak (untuk memilih) baik itu dalam pemilu legislatif, pemilukada ataupun pilpres selalu memiliki alasan tersendiri untuk tidak menggunakan haknya memilih salah satu pasangan calon pemimpin ataupun caleg alias Golput ( golongan putih). Adapun hal yang menjadi alasan para “golputers” untuk bersikap “netral” dalam pemilu sebenarnya  cukup klise namun fundamental, misalnya; dalam pemilu tersebut jagoannya tidak mencalonkan diri, tidak menyukai para calon yang ada dengan alasan tertentu, atau bahkan karena tidak ada satupun calon yang ada dianggap pantas untuk menjadi pemimpin atau wakil di DPR.4358776-16x9-940x529

Fenomena golput sendiri sebenarnya mendapat berbagai tanggapan negatif  dari para tokoh-tokoh nasional, ada yang merasa prihatin terhadap rendahnya “kesadaran masyarakat untuk berdemokrasi”.  Salah satu tokoh yang vokal menghimbau masyarakat untuk tidak golput diantaranya Jusuf Kalla yang merupakan mantan orang nomor dua RI, beliau mengatakan bahwa pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemilu akan turut menentukan nasib bangsa paling tidak dalam jangka lima tahun kedepan, sedangkan bagi kalangan “golputers” tidak boleh mengeluh jika seandainya dalam jangka waktu tersebut bangsa ini dibawa kedalam jurang kesusahan dan kemelaratan. Tanggapan dari JK tersebut mewakili salah satu diantara banyak tokoh yang menentang golput.

Dalam konsep negara demokrasi, partisipasi rakyat dalam menentukan calon pemimpin yang pantas memang sangat dibutuhkan, karena sesuai dengan hakikat demokrasi yang memiliki konsep pemerintahan yang bersifat dari rakyat dan untuk rakyat. Kehadiran para pemilih sangat penting dalam menentukan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri, sehingga dari satu sisi ada benarnya jika Jusuf Kalla mengatakan bahwa golputers tidak berhak mengeluh karena mereka tidak turut andil samasekali dalam memilih.

Setiap  periode lima tahunan pemilu dilakukan dan merupakan “pesta rakyat” yang amat meriah dan mewah bagi setiap kalangan, baik para pengguna hak untuk dipilih maupun sebaliknya. Jika melihat dari sudut pandang para pengguna hak untuk dipilih (para caleg dan calon pemimpin)  maka pemilu kemudian menjadi ajang perang visi dan misi yang diharapkan mampu menarik pemilih untuk mendukung hingga sampai ke parlemen ataupun kursi kepemimpinan. Selain menggunakan program-program unggulannya untuk menarik dukungan dari simpatisannya , para calon ini terkadang mengandalkan latar belakang (keluarga, agama,suku, materi, dll)  yang dimilikinya untuk memperoleh dukungan secara ekstra, meskipun terkadang hal tersebut cenderung tidak fair dan tidak sesuai dengan etika dalam berpolitik.

Tawaran-tawaran dan janji-janji dari para calon yang hadir dalam setiap pemilu sesungguhnya amat sangat menggiurkan bagi para voters dan seharusnya mampu mengurangi persentase kalangan golput pada setiapkali diadakan pemilu yang terus meningkat tajam. Selain daripada kualitas program yang ditawarkan, rekam jejak perjalan hidup sang calon juga menjadi pertimbangan utama bagi voters dalam menentukan pilihannya.

Banyaknya variabel pertimbangan dalam menentukkan pilihan pemimpin yang sesuai dengan hati nurani inilah yang turut memicu meningkatnya jumlah goliput dari tahun ke tahun. Kurangnya calon pemimpin/caleg yang benar-benar bersih dan mau mengeluarkan kebijakan-kebijakan pro rakyat membuat masyarakat semakin pesimistis terhadap masa depan bangsa ini, sehingga sebagian besar voters yang bimbang tadi memilih golput ketimbang memilih salah satu diantara calon yang ada.

Dalam pesta demokrasi kita selalu dianjurkan untuk memilih calon pemimpin yang terbaik dari yang terbaik, anggapan tersebut memang tidak ada salahnya bahkan memang mutlak harus demikianlah adanya. Sebagai masyarakat yang menginginkan bangsa yang dipimpin oleh seorang yang benar-benar bersih maka tidak ada salahnya jika para voters mengharapkan kehadiran seorang pemimpin yang sempurna (meskipun kita tahu secara real bahwa, nobody is perfect) bagi negara ini. Seandainya bila konsep keinginan masyarakat tersebut diaplikasikan ketika pemilu maka barulah dipahami secara jelas tentang asal-usul munculnya para “golputers” ini.

Disaat para voters di tuntut untuk tetap menjalankan kewajiban sebagai warganegara yang baik untuk mengikuti pemilu, maka wajar pula jika sebaliknya para pemilih ini menuntut para calon pemimpin yang benar-benar berkualiatas pula. Seandainya (sekali lagi) jika dalam pemilu terdapat lima calon pemimpin dan diantara para calon tersebut tidak ada yang benar-benar bersih, lalu apakah rakyat harus memilih orang yang tingkat “kebersihannya” lebih baik dari yang lain sebagai pemimpinnya? Jawabannya memang sudah seharusnya karena kembali lagi kepada prinsip memilih yang terbaik (mungkin saja orang yang lebih baik tidak mencalonkan saat itu). Jika pengandaian di atas benar-benar terjadi (persentase kemungkinannya lebih tinggi), maka pesta demokrasi lima tahunan tersebut tak ubahnya sebuah kontes untuk memilih “sampah” terbersih dan jika demikian maka para golput tidak pantas dicela karena mereka tetap berpegang kepada idealisme dan keteguhan hati, seandainya jika mereka memang mengeluh terhadap sebuah kepemimpinan yang lemah dan merugikan, maka hal itu merupakan sebuah kewajaran pula karena  hal itu merupakan sebuah hak azasi yang mereka miliki sejak lahir di bumi Indonesia ini, dengan demikian maka sudah selayaknya para pemimpin parpol yang mulai mempertimbangkan untuk mengajukan calon pemimpin yang memiliki prestasi, kapasitas dan latar belakang yang bersih meskipun tidak memiliki uang yang banyak dan menyingkirkan atau bahkan membuang para kader kotor yang berambisi menjadi pemimpin namun berduit. Sehingga pemimpin yang ideal bisa membawa bangsa Indonesia sampai dengan selamat menuju cita-cita bangsa sesuai dengan yang tercantum dalam preambule UUD 1945.

Merdeka!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s