PENGARUH KEBUDAYAAN MESIR KUNO BAGI DUNIA

Mesir berada di wilayah Laut Tengah, dimana juga berada pusat-pusat peradaban lainnya. Selain berada di Laut tengah, Mesir juga mudah di datangi bangsa-bangsa Eropa dan Asia. Untuk menuju Mesir, bangsa Asia dapat melewati Kanaan (Syria, Lebanon, Palestina), sedangkan bagi bangsa Eropa, khususnya Yunani, dapat menyeberangi Laut Tengah. Keadaan Geografis Mesir yang demikian dapat memudahkan terjadinya pertukaran budaya antar bangsa yang berbeda kebudayaan.
Meskipun demikian, keadaan tersebut tidak membuat Mesir kehilangan identitas budaya khasnya, bahkan pengaruh langsung dari Asia tidak bisa mengubah corak khas Mesir. Mesir tetap tampil sebagai bangsa besar yang mandiri, dan menjadikannya salah satu pusat peradaban. Berikut adalah pengaruh Mesir bagi dunia:
A. Sistem kalender. Masyarakat Mesir mula-mula membuat kalender bulan berdasarkan siklus (peredaran) bulan selama 291/2 hari. Karena dianggap kurang tetap kemudian mereka menetapkan kalender berdasarkan kemunculan bintang anjing (Sirius) yang muncul setiap tahun. Mereka menghitung satu tahun adalah 12 bulan, satu bulan 30 hari dan lamanya setahun adalah 365 hari yaitu 12 x 30 hari lalu ditambahkan 5 hari. Mereka juga mengenal tahun kabisat. Penghitungan ini sama dengan kalender yang kita gunakan sekarang yang disebut Tahun Syamsiah (sistem Solar).
B. Ilmu astrologi dan astronomi yang mempelajari tentang bintang dan benda langit juga masih digunakan dunia hingga saat ini.
C. Sistem irigasi Mesir, yang membuat Mesir kaya akan hasil pertanian, sekarang juga digunakan pada pertanian modern di seluruh dunia.
D. Pohon lontar atau papirus adalah sebuah bahan kertas yang dibuat dari tanaman. Setelah Mesir membuat hal bahan kertas, mereka perlu sesuatu untuk menulis dengan begitu mereka menciptakan tinta yang sekarang juga digunakan oleh masyrakat modern di seluruh dunia.
E. Di bidang Matematika. Matematika di Mesir Kuno memiliki pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari teorema Pythagoras , misalnya bahwa segitiga memiliki sudut tepat di seberang miring ketika sisi-sisinya berada dalam rasio 3-4-5. Mereka mampu memperkirakan luas sebuah lingkaran dengan mengurangkan satu – sembilan dari diameter dan mengkuadratkan hasilnya, berikut adalah rumusnya: Luas ≈ [(8 / 9) D] 2 = (256 / 81) r 2 ≈ 3,16 r 2, rumus inilah yang sekarang juga digunakan oleh masyrakat modern di seluruh dunia.
F. Di bidang kedokteran. Mesir adalah yang pertama mengambil spesialisasi di bidang kedokteran. Dokter yang berbeda yang khusus pada hewan, mata dan bedah. Mereka juga yang pertama untuk menggunakan kompres, splints, dan perban.

Kejatuhan Mesir ke Dalam Pengaruh Imperialisme Inggris&Perancis Hingga Kebangkitan Nasionalisme

a. Latar Belakang Imperialisme Inggris di Mesir
Sejak dibukanya terusan Suez pada tahun 1969, Inggris mulai menaruh perhatian terhadap Mesir. Cita-cita untuk memperluas pengaruh ke negeri pyramid ini pada akhirnya terealisasi pada masa pemerintahan Disraeli ketika ia diangkat menjadi perdana menteri pada tahun 1874-1880. Akan tetapi realisasi tersebut baru mencapai tingkat awal saja.
Bersama-sama dengan Salisbury, Disraeli mewakili golongan Empire atau golongan imperialisme. Cita-cita golongan ini ialah melakukan perluasan kerajaan Inggris dan mempererat kembali hubungan antara penduduk koloni dan negeri induk, sehingga tercapailah sebuah kerajaan yang akan mencakup seluruh dunia. Sebaliknya para pesaing politiknya, golongan Gladstone (yang biasa dikenal sebagai kaum pacifis atau Little Englander) meghendaki pemusatan perhatian kepada masalah-masalah pembangunan dalam negeri. Kelompok ini tidak mementingkan gerakan imperialisme karena khawatir bahwa politik tersebut akan menimbulkan krisis-krisis yang bersifat internasional dan pada akhrinya bisa merugikan Inggris.
Untuk mencapai cita-cita Greater Britain-nya, Disraeli mulai melakukan perluasan daerah. Pada tahun 1874, kepulauan Fiji dilautan pasifik diduduki. Pada tahun berikutnya, setelah ia mendengar berita bahwa Mesir akan menjual haknya (saham) atas Terusan Suez kepada pihak Perancis, ia menggunakan kesempatan itu untuk memperluas pengaruh Inggris sekaligus untuk menyaingi Perancis yang juga merupakan rival abadinya di Eropa. Ide untuk ekspansi ekonomi ke Mesir tersebut ternyata tidak disetujui oleh Lord Derby (menteri luar negeri) dan Northcote (menteri keuangan), akan tetapi karena Ratu Victoria yang menyokong maksud pembelian tersebut, maka Disraeli dapat bertindak dengan cepat tanpa harus menunggu pengesahan parlemen – yang juga sukar diperolehnya – ia meminjam uang dari Bank Rotschilds sebesar kurang lebih 4 juta Poundsterling dan kemudian berhasil membeli sebanyak 176.602 lembar saham Khediev (Penguasa Mesir di era 1863-1897). Pembelian ini meliputi 44% dari saham Mesir di Terusan Suez.
Tindakan Disraeli yang sering disebut oleh sebagian kalangan sebagai sebuat Coup ini mengakibatkan perhatian dan kepentingan Inggris di Terusan Suez sama besarnya dengan kepentingan Perancis di daerah tersebut. Oleh sebab itu pada akhirnya, kedua negara menjadi lebih sering berkonflik sebagai akibat dari persaingan yang semakin meningkat. Konflik ini berlangsung lama dan baru dapat diatasi pada tahun 1904 dengan dicapainya Morocco – Egyptian agreement.

Benjamin Disraeli PM Inggris yang memelopori pembelian saham Maskapai Terusan Suez dari Khedive Ismail

Benjamin Disraeli PM Inggris yang memelopori pembelian saham Maskapai Terusan Suez dari Khedive Ismail


b. Kondisi dalam negeri Mesir pasca masuknya pengaruh Imperialisme Barat
Khedive Ismail (1863-1897) adalah penguasa yang boros. Selama ia memerintaha dalam kurun waktu kurang lebih dari 16 tahun, uang yang dibelanjakan ada sekitar 90 juta Pounds, diperlukan untuk pembangunan, penaklukan daerah Sudan, perbaikan pendidikan dan sebagainya. Disamping itu ia menambah jumlah upeti tahunan yang dipersembahkan kepada Sultan Turki. Sebagai ucapan terimakasih Sultan Turki menganugerahkan sebutan Khedive kepadanya, sebagai pengganti sebutan Pasha. Ismail juga membeli tanah-tanah milik para tuan tanah dinegerinya, hingga luas tanah miliknya mencapai 916.000 acre. Akibatnya naiklah hutang Mesir dengan pesatnya dari 3 juta Pound dalam tahun 1863 menjadi 80 juta Pound pada tahun 1876.
Untuk mencegah terjadinya kebangkrutan negara, Ismail menjual saham-sahamnya yang ada dalam Maskapai Terusan Suez. Karena pembeli saham tersebut adalah Inggris (1875), maka sejak itu Inggris mulai mendapatkan kesempatan untuk melakukan intervensi terhadap masalah-masalah dalam negeri Mesir.
Uang yang diperoleh dari penjualan saham-saham itu ternyata tidak mampu menutupi kekurangan kas negeri Mesir. Pada tahun berikutnya (1876) Khedive Ismail Ismail menghadapi kebangkrutan lagi. Kemudian ia mengajukan permintaan peminjaman kepada Perancis dan Inggris. Sebagai jawaban atas permintaan tersebut, pemerintah Inggris mengirimkan Stephen Cave untuk meneliti hal-hal yang berhubungan dengan keuangan Mesir. Hasil laporan itu menerangkan bahwa kemakmuran daerah itu dapatdiharapkan tetapi untuk mendapatkannya diperlukan metode-metode pengelolaan keuangan yang lebih teliti dan rapi. Akibat penyelidikan tersebut, dibentuklah suatu panitia terdiri atas negara-negara Eropa yang bertujuan untuk mengurusi kemakmuran Mesir. Efek positif memang dirasakan pada awal pemebentukan panitia tersebut, yakni kebangkrutan negara dapa diatasi, tetapi ironisnya, seperdua penghasilan negara berada dibawah pengawasan panitia internasional yang biasa disebut Comite pour la Caisse de la Dette Publique (1876). Panitia ini beranggotakan Inggris, Austria, Italia, Perancis dan Jerman.
Pembaharuan-pembaharuan diadakan baik dalam bidang politik maupun keuangan. Mesir dijadikan kerajaan Konstitusional dengan seorang Inggris – Wilson – sebagai menteri keuangan dan seorang Perancis – de Blignieres – sebagai menteri pekerjaan umum. Dengan demikian maka karena masalah keuanganlah, yang membuka jalan bagi masuknya imperialisme Barat ke Mesir.
Intervensi Barat tersebut dirasakan sangat berat oleh Khedive. Ketika ia tahu bahwa sebagian besar tuan-tuan tanah juga tidak puas terhadap pembaharuan itu, maka ia mencoba melakukan melakukan sabotase terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan yang telah disusun oleh menteri-menteri asing dalam kabinetnya. Menteri-menteri yang berkebangsaan Eropa itu kemudian dipecat olehnya dan kemudian membentuk sebuah kabinet baru. Tindakan yang dilakukan oleh Khedive ini tentu saja mendapat reaksi yang keras dari Inggris dan Perancis, kedua negara tersebut kemudian meminta supaya sang Khedive/Ismail untuk segera meletakkan jabatannya, tetapi permintaan itu ditolak. Penolakan mundur oleh Ismail membuat Inggris dan Perancis kemudian membujuk Sultan Turki untuk memecat Ismail dan ternyata usaha tersebut berhasil, sehingga anak Ismail – Tewfik – diangkat menggantikan ayahnya.
Khedive yang baru dipaksa oleh kedua negara tersebut untuk mengembalikan adanya pengawasan Inggris-Perancis terhadap keuangan Mesir. Dual Control yang dilakukan kedua negara berlangsung dari tahun 1879 hingga 1883. Sebagai konsekuensi dari kontrol tadi, maka dibuatlah kebijakan anggaran yang baru, di mana besaran pajak dinaikkan terutama bagi tuan-tuan tanah Mesir. Untuk menjaga agar keuangan negara tetap sehat, maka para “penasihat” Inggris-Perancis itu menganjurkan pengurangan gaji pegawai dan opsir-opsir tentara. Sebagai contoh, pada waktu itu kira-kira 2500 orang opsir hanya menerima seperdua gaji saja.
c. Munculnya Gerakan Nasionalisme
Intervensi yang dilakukan oleh Inggris-Perancis menjadi semacam penyulut bagi munculnya api yang membakar jiwa nasionalisme rakyat Mesir. Munculnya gerakan nasionalisme yang bersifat perlawanan fisik pada awalnya digerakkan oleh kalangan-kalangan yang merasa dirinya sebagai pihak yang paling dirugikan, yaitu para pegawai dan opsir-opsir tentara yang gajinya dipotong hingga seperdua dari jumlah biasanya. Pemimpin gerakan tersebut ialah kolonel Ahmad Arabi (1841-1911), yang meskipun berasal dari kalangan militer tetapi sesungguhnya ia merupakan orang yang terpelajar dan merupakan alumni dari unversitas Al-Azhar. Dengan latar belakang yang sedimikan rupa, Ahmad Arabi mampu memperoleh banyak dukungan dari para pengikutnya dalam menentang kebijakan Dual Control dari Inggris-Perancis serta mendengungkan semboyan “Mesir untuk orang Mesir”.
Pada tahun 1881 kelompok yang dipimpin oleh Ahmad Arabi (dikenal sebagai Gerakan Arabi) berhasil memaksa Khedive mengundang perwakilan orang-orang terkemuka – semacam parlemen aristocrat – untuk bersidang. Siding tersebut menuntut dibentuknya kabinet yang lebih baik, adanya hak-hak parlemen untuk mengawasi pengeluaran seperdua pendapatan negara yang tidak diperuntukkan pembayaran hutang kepada Barat. Pada tahun 1882, Tewfik dipaksa untuk mengangkat Ahmad Arabi sebagai menteri Pertahanan.
Pergolakan politik di Mesir yang semakin memanas akibat tekanan dari gerakan kaum nasionalis ini membuat pemerintah Inggris yang saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri Gladstone bereaksi dengan keras. Pemerintah Gladstone (Inggris) dan Gambetta (Perancis) sama-sama mengumumkan bahwa mereka akan melindungi Khedive dari ancaman musuh-musuhnya. Sebagai realisasi dari janjinya, maka dilakukan pengiriman satu skuadron termpur ke Bandar Iskandariah untuk mengadakan demonstrasi angkatan laut dan memperkuat kekuasaan Khedive. Mereka juga menuntut agar Arabi dicopot dari jabatannya sebagai menteri pertahanan.
Tuntutan Inggris dan Perancis untuk pencopotan Ahmad Arabi dari jabatannya ternyata menambah berkobarnya semangat anti asing yang kemudian berujung pada timbulnya kerusuhan di kota Iskandariah dan mengakibatkan jatuhnya korban 50 orang Eropa. Pada waktu itu kelompok Arabi telah memperkuat diri dan mendirikan markas pertahannya di Iskandariah.
Pada bulan Juli 1882, Admiral Seymour memerintahkan agar kapal-kapal perang Inggris untuk menembakkan peluru-pelurunya. Pada saat-saat yang kritis ini, kapal-kapal perang Perancis justru meninggalkan Iskandariah yang sedang dibom oleh Inggris. Penarikan kembali angakatan laut Perancis ini disebabkan karena Freycinet – pengganti Gambetta – tidak dapat melanjutkan politik imperialismnya terhadap Mesir. Freycinet mendapat tentangan yang keras dari parlemen, terutama dari kelompok partai radikal yang dipimpin oleh Clemenceau yang lebih mengutamakan politik revanche terhadap Jerman ketimbang politik imperialisme.
Untuk menghadapi kaum nasionalis Mesir, Inggris kemudian minta bantuan Turki dan Italia. Akan tetapi karena kedua negara tersebut menolak permintaan tersebut, maka Inggris memutuskan untuk bertindak sendiri. Di bawah pimpinan Jenderal Wolseley, tentara Inggris berhasil mendarat di Port Said. Kekuatan tentara Arabi akhirnya dapat dipatahkan dalam pertempuran di Tel-el-Kabir. Dengan demikian “kedaulatan” Tewfik atas Mesir dapat dikembalikan dan Arabi kemudian diasingkan ke Sailan. Selanjutnya, ditentukan bahwa tentara Mesir berada dibawah kendali opsir-opsir Inggris. Keuangan kembali diatur dan diawasi oleh Inggris. Didalam kabinet harus ada penasihat-penasihat yang beranggotakan orang Inggris.
Arabi Pasha pemimpin sekaligus Pioneer bagi gerakan Nasionalisme Mesir.

Arabi Pasha pemimpin sekaligus Pioneer bagi gerakan Nasionalisme Mesir.


d. Faktor-faktor yang mempengaruhi Lahirnya Nasionalisme Mesir
Mesir termasuk negara Arab sehingga bangkitnya nasionalisme Mesir merupakan hal yang sama dengan bangkitnya nasionalisme Arab. Banyaknya peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di negara-negara Arab lainnya ternyata membawa pengaruh langsung bagi lahirnya sebuah nasionalisme dinegara lain tidak terkecuali Mesir. Pengaruh-pengaruh ini cenderung bersifat tidak langsung karena tidak langsung dirasakan oleh rakyat Mesir sendiri. Adapun faktor-faktor tak langsung tersebut adalah sebagai berikut:
1) Adanya gerakan Wahabi, semula merupakan gerakan agama yang kemudian memberontak pemerintahan Turki. Dengan demikian, secara politik membangkitkan tumbuhnya nasionalisme Mesir.
2) Adanya pengaruh Revolusi Prancis. Ketika Napoleon Bonaparte mendarat di Mesir, ia juga membawa suara Revolusi Prancis yang kemudian menimbulkan paham liberal dan nasionalisme Mesir.
3) Adanya Gerakan Pan Arab, yang dirintis oleh Amir Chetib Arslan dengan yang menganjurkan persatuan semua bangsa Arab dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan bangsanya.
Sedangkan faktor pendorong yang bersifat langsung adalah melalui perjuangan Ahmad Arabi, Sekalipun pemberontakan Ahmad Arabi berhasil dipadamkan, namun cita-cita perjuangan Arabi merupakan sumber aspirasi semangat nasionalisme bangsa Mesir. Hal ini terbukti pada tanggal 7 Desember 1907 telah diadakan kongres nasional yang pertama di bawah pimpinan Mustafa Kamil. Tujuannya adalah pembangunan Mesir secara liberal untuk mencapai kemerdekaan penuh. Pemerintah Mesir yang dipengaruhi oleh Inggris berusaha untuk menindas gerakan ini, akan tetapi gerakan nasional ini tetap hidup dan makin kuat bahkan kemudian menjelma menjadi Partai Wafd (Utusan) di bawah pimpinan Saad Zaghlul Pasha.
Ketika Perang Dunia I selesai, Partai Wafd menuntut Mesir sebagai negara merdeka dan ikut serta dalam konferensi perdamaian di Prancis. Inggris menolak, bahkan mengasingkan Zaghlul Pasha ke Malta. Pada tahun 1919 di Mesir timbul pemberontakan dan Zaghlul Pasha dibebaskan kembali. Kaum nasionalise Mesir menuntut kemerdekaan penuh. Pemberontakan berkobar lagi, Zaghlul Pasha ditangkap lagi dan diasigkan ke Gibraltar. Inggris yang tidak dapat menekan nasionalisme Mesir, terpaksa mengeluarkan Pernyataan Unilateral (Unilateral Declaration) pada tanggal 28 Februari 1922.
1) Inggris mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Mesir.
2) Inggris berhak atas empat masalah pokok,seperti berikut:
a) mempertahakan Terusan Suez;
b) mempergunakan daerah militer untuk operasi militer;
c) mempertahankan Mesir terhadap agresi bangsa lain;
d) melindungi bangsa asing di Mesir dan kepentingannya.
Uniteral Declaration 1922 merupakan saat yang bersejarah bagi Mesir sebab sejak itu dunia internasional menganggap Mesir telah merdeka, meskipun belum penuh. Sebaliknya, di pihak kaum nasionalis Mesir tetap tetap menentangnya sebab Inggris tetap berhak atas empat masalah pokok tersebut di atas. Itulah sebabnya, kaum nasionalisme Mesir terus berjuang melawan Inggris untuk mencapai kemerdekaan penuh. Hal ini baru terwujud setelah Perang Dunia II berakhir.
e. Dampak Munculnya Gerakan Nasioanalisme di Mesir
Gerakan nasionalisme Mesir yang mulai muncul ke permukaan pada tahun 1880-an di bawah pimpinan Ahmad Arabi berhasil menyumbang berbagai pengaruh positif bagi perjuangan bangsa Mesir menuju kemerdekaan dikemudian hari. Perjuangan dan kekerasan hati seorang Ahmad Arabi dalam melawan pengaruh imperialisme Inggris-Perancis membuat perjuangan para generasi penerusnya lebih inspiratif dan memiliki daya juang yang tidak kalah tingginya, sebagai contoh ketika muncul lagi gerakan nasionalisme di bawah pimpinan Zaghlul Pasha, perlawanan terhadap kaum imperialis tidak pernah surut meskipun pemimpinnya (Zaghlul Pasha) berulang kali ditangkap. Perlawanan ini sendiri tetap terus berlanjut hingga akhirnya Mesir memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 29 Februari 1922 dan kemerdekaan penuh di 18 Juni 1953.
Bagi kaum Imperialis khususnya Inggris dan Perancis, munculnya gerakan nasionalisme Mesir berdampak langsung bagi stabilitas penguasaan dan pengarunnya atas Mesir dan keberlangsungan kepemilikan mereka atas Terusan Suez. Munculnya perlawanan membuat Inggris (yang pada akhirnya ditinggalkan oleh Perancis) mau tidak mau harus melakukan perang dan mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit karena perang tersebut. Dampak jangka pendek bagi pemerintah Inggris yang dipimpin oleh Gladstone mulai diguncang dari dalam, yang kemudian berujung pada kegagalan bagi Gladstone untuk terpilih kembali menjadi Perdana Menteri pada periode selanjutnya. Sedang dampak jangka panjangnya, perlawanan Ahmad Arabi menjadi semacam pionir bagi munculnya perlawanan-perlawan yang lainnya, yang kemudian akan membuat penerapan poltik imperialisme Inggris di Mesir mendapat hambatan. Hambatan-hambatan semacam inilah yang kemudian berhasil membuat Inggris mulai melunak dan kemudian melepaskan pengaruhnya atas Mesir.

baca juga:
O Collins, Robert dan Robert I Tignor. Egypt and The Sudan. New Jersey : Englewood Cliffs
Suratman, Darsiti. Sedjarah Afrika Zaman Imperialisme Modern. Jogjakarta :Vita, 1965
dll

read, learn and think!

Salahkah Fenomena Golput Dalam Pesta “Demokreasi” ???

Agenda lima tahunan yang selalu dinanti nantikan oleh segenap rakyat Indonesia menyimpan kisah tersendiri bagi para voters. Para pemilik hak (untuk memilih) baik itu dalam pemilu legislatif, pemilukada ataupun pilpres selalu memiliki alasan tersendiri untuk tidak menggunakan haknya memilih salah satu pasangan calon pemimpin ataupun caleg alias Golput ( golongan putih). Adapun hal yang menjadi alasan para “golputers” untuk bersikap “netral” dalam pemilu sebenarnya  cukup klise namun fundamental, misalnya; dalam pemilu tersebut jagoannya tidak mencalonkan diri, tidak menyukai para calon yang ada dengan alasan tertentu, atau bahkan karena tidak ada satupun calon yang ada dianggap pantas untuk menjadi pemimpin atau wakil di DPR.4358776-16x9-940x529

Fenomena golput sendiri sebenarnya mendapat berbagai tanggapan negatif  dari para tokoh-tokoh nasional, ada yang merasa prihatin terhadap rendahnya “kesadaran masyarakat untuk berdemokrasi”.  Salah satu tokoh yang vokal menghimbau masyarakat untuk tidak golput diantaranya Jusuf Kalla yang merupakan mantan orang nomor dua RI, beliau mengatakan bahwa pentingnya partisipasi masyarakat dalam pemilu akan turut menentukan nasib bangsa paling tidak dalam jangka lima tahun kedepan, sedangkan bagi kalangan “golputers” tidak boleh mengeluh jika seandainya dalam jangka waktu tersebut bangsa ini dibawa kedalam jurang kesusahan dan kemelaratan. Tanggapan dari JK tersebut mewakili salah satu diantara banyak tokoh yang menentang golput.

Dalam konsep negara demokrasi, partisipasi rakyat dalam menentukan calon pemimpin yang pantas memang sangat dibutuhkan, karena sesuai dengan hakikat demokrasi yang memiliki konsep pemerintahan yang bersifat dari rakyat dan untuk rakyat. Kehadiran para pemilih sangat penting dalam menentukan pemimpin yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka sendiri, sehingga dari satu sisi ada benarnya jika Jusuf Kalla mengatakan bahwa golputers tidak berhak mengeluh karena mereka tidak turut andil samasekali dalam memilih.

Setiap  periode lima tahunan pemilu dilakukan dan merupakan “pesta rakyat” yang amat meriah dan mewah bagi setiap kalangan, baik para pengguna hak untuk dipilih maupun sebaliknya. Jika melihat dari sudut pandang para pengguna hak untuk dipilih (para caleg dan calon pemimpin)  maka pemilu kemudian menjadi ajang perang visi dan misi yang diharapkan mampu menarik pemilih untuk mendukung hingga sampai ke parlemen ataupun kursi kepemimpinan. Selain menggunakan program-program unggulannya untuk menarik dukungan dari simpatisannya , para calon ini terkadang mengandalkan latar belakang (keluarga, agama,suku, materi, dll)  yang dimilikinya untuk memperoleh dukungan secara ekstra, meskipun terkadang hal tersebut cenderung tidak fair dan tidak sesuai dengan etika dalam berpolitik.

Tawaran-tawaran dan janji-janji dari para calon yang hadir dalam setiap pemilu sesungguhnya amat sangat menggiurkan bagi para voters dan seharusnya mampu mengurangi persentase kalangan golput pada setiapkali diadakan pemilu yang terus meningkat tajam. Selain daripada kualitas program yang ditawarkan, rekam jejak perjalan hidup sang calon juga menjadi pertimbangan utama bagi voters dalam menentukan pilihannya.

Banyaknya variabel pertimbangan dalam menentukkan pilihan pemimpin yang sesuai dengan hati nurani inilah yang turut memicu meningkatnya jumlah goliput dari tahun ke tahun. Kurangnya calon pemimpin/caleg yang benar-benar bersih dan mau mengeluarkan kebijakan-kebijakan pro rakyat membuat masyarakat semakin pesimistis terhadap masa depan bangsa ini, sehingga sebagian besar voters yang bimbang tadi memilih golput ketimbang memilih salah satu diantara calon yang ada.

Dalam pesta demokrasi kita selalu dianjurkan untuk memilih calon pemimpin yang terbaik dari yang terbaik, anggapan tersebut memang tidak ada salahnya bahkan memang mutlak harus demikianlah adanya. Sebagai masyarakat yang menginginkan bangsa yang dipimpin oleh seorang yang benar-benar bersih maka tidak ada salahnya jika para voters mengharapkan kehadiran seorang pemimpin yang sempurna (meskipun kita tahu secara real bahwa, nobody is perfect) bagi negara ini. Seandainya bila konsep keinginan masyarakat tersebut diaplikasikan ketika pemilu maka barulah dipahami secara jelas tentang asal-usul munculnya para “golputers” ini.

Disaat para voters di tuntut untuk tetap menjalankan kewajiban sebagai warganegara yang baik untuk mengikuti pemilu, maka wajar pula jika sebaliknya para pemilih ini menuntut para calon pemimpin yang benar-benar berkualiatas pula. Seandainya (sekali lagi) jika dalam pemilu terdapat lima calon pemimpin dan diantara para calon tersebut tidak ada yang benar-benar bersih, lalu apakah rakyat harus memilih orang yang tingkat “kebersihannya” lebih baik dari yang lain sebagai pemimpinnya? Jawabannya memang sudah seharusnya karena kembali lagi kepada prinsip memilih yang terbaik (mungkin saja orang yang lebih baik tidak mencalonkan saat itu). Jika pengandaian di atas benar-benar terjadi (persentase kemungkinannya lebih tinggi), maka pesta demokrasi lima tahunan tersebut tak ubahnya sebuah kontes untuk memilih “sampah” terbersih dan jika demikian maka para golput tidak pantas dicela karena mereka tetap berpegang kepada idealisme dan keteguhan hati, seandainya jika mereka memang mengeluh terhadap sebuah kepemimpinan yang lemah dan merugikan, maka hal itu merupakan sebuah kewajaran pula karena  hal itu merupakan sebuah hak azasi yang mereka miliki sejak lahir di bumi Indonesia ini, dengan demikian maka sudah selayaknya para pemimpin parpol yang mulai mempertimbangkan untuk mengajukan calon pemimpin yang memiliki prestasi, kapasitas dan latar belakang yang bersih meskipun tidak memiliki uang yang banyak dan menyingkirkan atau bahkan membuang para kader kotor yang berambisi menjadi pemimpin namun berduit. Sehingga pemimpin yang ideal bisa membawa bangsa Indonesia sampai dengan selamat menuju cita-cita bangsa sesuai dengan yang tercantum dalam preambule UUD 1945.

Merdeka!!!

Pancasila Sebagai Filsafat Nilai yang Fundamental dan Terbuka

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT NILAI YANG FUNDAMENTAL DAN TERBUKA

I. Pengertian Pancasila sebagai nilai
Secara harfiah nilai dapat diartikan sebagai sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.
Diterimanya pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia. Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan permusyawaratan/perwakilan, dan nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dengan pernyataan secara singkat bahwa nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.
II. Nilai-nilai Fundamental Yang Terkandung di dalam Pancasila
Pancasila yang ditetapkan oleh para pendiri negara memuat nilai-nilai luhur dan mendalam, yang menjadi pandangan hidup dan dan dasar negara. Nilai-nilai Pancasila secara bertahap harus benar-benar diwujudkan dalam perilaku kehidupan negara dan masyarakat.
Di dalam tatanan nilai kehidupan bernegara, ada yang disebut sebagai nilai dasar, nilai instrumental dan nilai praksis.
a. Nilai dasar adalah asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang kurang lebih mutlak. Nilai dasar berasal dari nilai-nilai kultural atau budaya yang berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri, yaitu yang berakar dari kebudayaan, sesuai dengan UUD 1945 yang mencerminkan hakikat nilai kultural.
b. Nilai instrumental adalah pelaksanaan umum nilai-nilai dasar, biasanya dalam wujud norma sosial atau norma hukum, yang selanjutnya akan terkristalisasi dalam lembaga yang sesuai dengan kebutuhan tempat dan waktu. Nilai instrumental, meskipun lebih rendah daripada nilai dasar, tetapi tidak kalah penting karena nilai ini mewujudkan nilai umum menjadi konkret serta sesuai dengan zaman. Nilai instrumental merupakan tafsir positif terhadap nilai dasar yang umum.
c. Nilai praksis adalah nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan. Semangatnya nilai praksis ini seyogyanya sama dengan nilai dasar dan nilai instrumental. Nilai inilah yang sesungguhnya merupakan bahan ujian apakah nilai dasar dan nilai instrumental sungguh-sungguh hidup dalam masyarakat atau tidak.
Hubungan ketiga nilai tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: nilai dasar yang merupakan nilai objektif, positif, intrinsik, dan transenden itu dikonkretkan menjadi nilai instrumental. Selanjutnya nilai instrumental diimplementasikan lebih lanjut dalam wujud yang lebih konkret dan menjadi nilai praksis. Dengan demikian, nilai instrumental dapat dikatakan sebagai dasar perwujudan suatu praksis.
Dalam kehidupan bangsa yang mengacu kepada Pancasila ada beberapa nilai fundamental yang terkandung di dalamnya seperti; nilai ideal, nilai material, nilai spiritual, nilai pragmatis, nilai positif, nilai logis, nilai etis, nilai estetis, nilai sosial dan nilai religius atau keagamaan. Apabila dari nilai-nilai tersebut dijabarkan ke dalam rumusan yang terkandung dalam Pancasila, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai-nilai religius antara lain:
a) Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat-sifatnya Yang Sempurna, yakni Maha Kasih, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Bijaksana, dan sifat suci lain sebagainya.
b) Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya
c) Nilai Sila I ini juga meliputi dan menjiwai sila-sila II, III, IV dan V
2. Dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab terkandung nilai-nilai kemanusiaan antara lain:
a) Pengakuan terhadap adanya martabat manusia
b) Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia
c) Pengertian manusia yang beradab yang memiliki daya cipta, rasa, dan karsa dan keyakinan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan.
d) Nilai sila II meliputi dan menjiwai sila III, IV dan V.
3. Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa antara lain:
a) Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mencakup seluruh wilayah Indonesia
b) Persatuan Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia
c) Pengakuan terhadap ke-“Bhineka Tunggal Ika”-an suku bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah pembinaan kesatuan bangsa
d) Nilai sila III meliputi dan menjiwai sila IV dan V.
4. Dalam Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyarawatan/keadilan terkandung nilai kerakyatan antara lain:
a) Kedaulatan negara adalah ditangan rakyat
b) Pemimpin kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi oleh akal sehat
c) Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama
d) Musyawarah dan mufakat dicapai dalam permusyawaratan wakil-wakil rakyat
e) Nilai sila IV meliputi dan menjiwai sila V
5. Dalam Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia terkandung nilai keadilan sosial antara lain:
a) Perwujudan keadilan sosial dalam kehidupan sosial atau kemasyarakatan meliputi seluruh rakyat Indonesia
b) Keadilan dalam kehidupan sosial terutama meliputi bidang-bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan pertahanan keamanan nasional
c) Cita-cita masyarakat adil dan makmur secara material dan spiritual yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia
d) Keseimbangan antara hak dan kewajiban dan menghormati hak orang lain
e) Cinta akan kemajuan dan pembangunan
f) Nilai sila V ini diliputi dan dijiwai sila I,II,III dan IV.

III. Pancasila Sebagai Filsafat Nilai Fundamental dan Terbuka Menjawab Persoalan Hidup Berbangsa dan Bernegara
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini kita menemukan banyak sekali persoalan-persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Persoalan yang ada datang dalam berbagai bentuk dan ragamnya, mulai dari persoalan sosial, ekonomi, budaya dan bahkan persoalan hankam. Dalam kehidupan sosial, diantara sesama rakyat Indonesia dapat terlihat dengan jelas terkait adanya kemerosotan moral, di mana korupsi yang seharusnya menjadi hal yang sangat tabu bagi pelakunya, berubah menjadi semacam gaya hidup dikalangan masyarakat, mulai dari pejabat kelas atas hingga lingkungan RT sekalipun. Dalam persoalan ekonomi dapat kita jumpai masih banyak diantara penduduk Republik ini yang hidup berada di bawah garis kemiskinan dan cenderung tidak diperhatikan oleh pemerintah. Dalam persoalan budaya juga terlihat jelas ketika banyak hasil budaya bangsa Indonesia yang seharusnya menjadi hak milik bangsa ini diklaim oleh bangsa lain sehingga membuat Indonesia seakan-akan kehilangan muka di hadapan dunia internasional. Dalam persoalan keamanan, akhir-akhir ini bangsa Indonesia seakan-akan dihantui oleh aksi-aksi terorisme yang hampir ada di mana-mana. Faham radikal yang dianut oleh kelompok-kelompok tertentu menyebabkan gangguan keamanan yang serius bagi negara ini dan bisa berdampak buruk bagi citra bangsa Indonesia sendiri dalam pandangan dunia internasional.
Dari setiap permasalahan yang telah diungkapkan di atas, sesungguhnya bukanlah merupakan bukti bahwa ideologi Pancasila itu gagal ataupun Pancasila itu sudah tidak relevan lagi. Ada banyak bukti yang dapat menggugurkan pernyataan-pernyataan yang sifatnya negatif terhadap Pancasila tersebut misalnya saja, selain sebagai nilai fundamental bagi pelaksanaan kehidupan bernegara, Pancasila juga merupakan ideologi yang terbuka.
Pancasila sebagai Ideologi yang terbuka dengan artian bahwa Pancasila mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa harus ada pengubahan nilai dasarnya (nilai Fundamental). Pancasila sebagai sumber filsafat nilai yang fundamental dan terbuka mengandung makna bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia sendiri. Berkaca kepada kalimat yang mengatakan bahwa pengegembangan Pancasila harus memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia memiliki arti bahwa dalam usaha menciptakan keselarasan antara Pancasila dan kondisi masa kini haruslah dilakukan dengan sangat hati-hati, agar pengembangan yang dilakukan tidak melenceng dari nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri.
Dalam menghadapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih banyak berupa persoalan-persoalan yang pelik dalam berbagai sendi kehidupan, masyarakat Indonesia harus memahami bahwa untuk menghadapi polemik tersebut sesungguhnya Pancasila telah memberikan orientasi ke depan yang mengharuskan bangsanya untuk selalu menyadari situasi kehidupan yang sedang dan akan dihadapinya, terutama menghadapi globalisasi dan era keterbukaan dunia dalam segala bidang. Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia tetap bertahan dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

buat teman-teman dipersilahkan untuk berkomentar dan memberikan tanggapan terkait pembahasan ini.

RAGAM STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF (Oleh Drs. Y.R. Subakti, M.Pd)

 

 

Adapun ragam strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran inovatif (Sukestyarno : 2007) meliputi:

  1. 1.     Metode diskusi ( Discussion method )

Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized recitation ).

Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk :

  1. Mendorong siswa berpikir kritis.
  2. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
  3. Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama.
  4. Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.

Kelebihan metode diskusi sebagai berikut :

  1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan
  2. Menyadarkan ank didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
  3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :

  1. tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
  2. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
  3. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
  4. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
  5. 2.     Metode demontrasi ( Demonstration method )

Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin Syah ( 2000).

Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Syaiful Bahri Djamarah, ( 2000).

Manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah :

  1. Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan .
  2. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
  3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa (Daradjat, 1985)

Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut :

  1. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atu kerja suatu benda.
  2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan .
  3. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melaui pengamatan dan contoh konkret, drngan menghadirkan obyek sebenarnya (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).

Kelemahan metode demonstrasi sebagai berikut :

  1. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan.
  2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan
  3. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000).
  4. 3.     Model Examples Non Examples

Contoh dapat dari kasus/gambar yang relevan dengan kompetensi dasar

Langkah-langkah :

  1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
  2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/In Focus
  3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar
  4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas
  5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
  6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai
  7. Kesimpulan
  8. 4.     Picture And Picture

Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Menyajikan materi sebagai pengantar
  3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
  4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
  5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
  6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
  7. Kesimpulan/rangkuman
  8. 5.     Cooperative Script

Metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari

Langkah-langkah :

  1. Guru membagi siswa untuk berpasangan
  2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
  3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
  4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar: (a) Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; (b) Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
  5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
  6. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan guru
  7. Penutup
  8. 6.     Student Teams-Achievement Divisions (STAD/Tim Siswa Kelompok Prestasi (Slavin, 1995)

Langkah-langkah :

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
  2. Guru menyajikan pelajaran
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
  5. Memberi evaluasi
  6. Kesimpulan
  7. 7.     Jigsaw (Model Tim Ahli)/(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)

Langkah-langkah :

  1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
  5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
  7. Guru memberi evaluasi
  8. Penutup
  9. 8.     Problem Based Introductuon (PBI)/(Pembelajaran Berdasarkan Masalah)

Langkah-langkah :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
  2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
  3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
  6. 9.     Mind Mapping

Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban

Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
  3. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
  4. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
  5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
  6. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru

10. Think Pair And Share (Frank Lyman, 1985)

Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Siswa diminta untuk berpikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
  3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
  4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
  5. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
  6. Guru memberi kesimpulan
  7. Penutup

11. Debat

Langkah-langkah :

  1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
  2. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
  3. Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
  4. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
  5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
  6. Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

(Sumber : Bahan Pelatihan LPMP Jawa Barat)

12. Role Playing

Langkah-langkah :

  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
  6. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
  7. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum
  10. Evaluasi
  11. Penutup

13. Group Investigation (Sharan, 1992)

Langkah-langkah :

  1. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
  2. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
  3. Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
  4. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
  5. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
  6. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
  7. Evaluasi
  8. Penutup

14. Snowball Throwing

Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
  2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
  3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
  4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
  5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit
  6. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
  7. Evaluasi
  8. Penutup

15. Facilitator And Explaining

Siswa/peserta mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya

Langkah-langkah :

  1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
  2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
  3. Memberikan kesempatan siswa/peserta untuk menjelaskan kepada peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya
  4. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa
  5. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu
  6. Penutup

16. Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC)/Kooperatif Terpadu Membaca Dan Menulis(Steven & Slavin, 1995)

Langkah-langkah :

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
  2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
  3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
  4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
  5. Guru membuat kesimpulan bersama
  6. Penutup

(Sumber : LPMP Jawa Barat)

17. Metode Karya Wisata

Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan.

Kelebihan metode karyawisata sebagai berikut :

  1. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
  2. Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat.
  3. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.

Kekurangan metode karyawisata sebagai berikut :

  1. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak.
  2. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.
  3. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan.
  4. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan.
  5. Biayanya cukup mahal.
  6. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.

Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjautempat tertentu atau obyek yang lain. Menurut Roestiyah (2001:85) , karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu dikatakan teknik karya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.

Menurut Roestiyah (2001:85) ,teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut: Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum. Juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.

Agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memeperhatikan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Persiapan, dimana guru perlu menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas, mempertimbangkan pemilihan teknik, menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi untuk merundingkan segala sesuatunya, penyusunan rencana yang masak, membagi tugas-tugas, mempersiapkan sarana, pembagian siswa dalam kelompok, serta mengirim utusan, (b) Pelaksanaan karya wisata, dimana pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya, memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama, mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi, demikian pula tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggungjawabnya, serta memberi petunjuk bila perlu, (c) Akhir karya wisata, pada waktu itu siswa mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil karya wisata, menyusun laporan atau paper yang memuat kesimpulan yang diperoleh, menindaklanjuti hasil kegiatan karya wisata seperti membuat grafik, gambar, model-model, diagram, serta alat-alat lain dan sebagainya.

Karena itulah teknik karya wisata dapat disimpulkan memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Siswa dapat berpartisispasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh disekolah, sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau ketrampilan mereka, (b) Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka, (c) dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek, (d) Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu.

Penggunaan teknik karya wisata ini masih juga ada keterbatasan yang perlu diperhatikan atau diatasi agar pelaksanaan teknik ini dapat berhasil guna dan berdaya guna, ialah sebagai berikut: Karya wisata biasanya dilakukan di luar sekolah, sehingga mungkin jarak tempat itu sangat jauh di luar sekolah, maka perlu mempergunakan transportasi, dan hal itu pasti memerlukan biaya yang besar. Juga pasti menggunakan waktu yang lebih panjang daripada jam sekolah, maka jangan sampai mengganggu kelancaran rencana pelajaran yang lain. Biaya yang tinggi kadang-kadang tidak terjangkau oleh siswa maka perlu bantuan dari sekolah. Bila tempatnya jauh, maka guru perlu memikirkan segi keamanan, kemampuan pihak siswa untuk menempuh jarak tersebut, perlu dijelaskan adanya aturan yang berlaku khusus di proyek ataupun hal-hal yang berbahaya.

Suhardjono (2004:85) mengungkapkan bahwa metode karya wisata (field-trip) memiliki keuntungan: (a) Memberikan informasi teknis, kepada peserta secara langsung, (b) Memberikan kesempatan untuk melihat kegiatan dan praktik dalam kenyataan atau pelaksanaan yang sebenarnya, (c) Memberikan kesempatan untuk lebih menghayati apa yang dipelajari sehingga lebih berhasil, (d) membei kesempatan kepada peserta untuk melihat dimana peserta ditunjukkan kepada perkembangan teknologi mutakhir.

Sedangkan kekurangan metode Field Trip menurut Suhardjono (2004:85) adalah: (a) Memakan waktu bila lokasi yang dikunjungi jauh dari pusat latihan, (b) Kadang-kadang sulit untuk mendapat ijin dari pimpinan kerja atau kantor yang akan dikunjungi, (c) Biaya transportasi dan akomodasi mahal.

Menurut Djamarah (2002:105), pada saat belajar mengajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau obyek yang lain. Hal itu bukan sekedar rekreasi tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu, dikatakan teknik karya wisata, yang merupakan cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pegadaian. Banyak istilah yang dipergunakan pada metode karya wisata ini, seperti widya wisata, study tour, dan sebagainya. Karya wisata ada yang dalam waktu singkat, dan ada pula yang dalam waktu beberapa hari atau waktu panjang.

Metode karya wisata mempunyai beberapa kelebihan yaitu: (a) Karya wisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran, (b) Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat, (c) Pengajaran serupa ini dapat lebih merangsang kreativitas siswa, (d) Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.

Kekurangan metode karya wisata adalah: (a) Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah, (b) Sangat memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang, (c) memerlukan koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata, (d) dalam karya wisata sering unsure rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama, sedang unsure studinya menjadi terabaikan, (e) Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan.

Metode field trip atau karya wisata menurut Mulyasa (2005:112) merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun karya wisata memiliki banyak hal yang bersifat non akademis, tujuan umum pendidikan dapat segera dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar.

Sebelum karya wisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode pembelajaran, hal-hal yang perlu diperhatikan menurut Mulyasa (2005:112) adalah: (a) Menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar mengajar, (b) Mengamati kesesuaian sumber belajar dengan tujuan dan program sekolah, (c) Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai-nilai paedagogis, (d) Menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum, apakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karya wisata dapat dilaksanakan, (e) membuat dan mengembangkan program karya wisata secara logis, dan sistematis, (f) Melaksanakan karya wisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, efek pembelajaran, serta iklim yang kondusif. (g) Menganalisis apakah tujuan karya wisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat kesulitan-kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan catatan untuk bahan karya wisata yang akan datang.

18. Metode Discovery

Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery ini: (a) Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif, (b) Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa, (c) Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain, (d) Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri, (e) dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan demikian diharapkan metode discovery ini lebih dikenal dan digunakan di dalam berbagai kesempatan proses belajar mengajar yang memungkinkan.

Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain, sebelum sampai kepada generalisasi.

Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.

Suryosubroto (2002:193) mengutip pendapat Sund (1975) bahwa discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.

Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan menurut Suryosubroto (2002:197) yang mengutip pendapat Gilstrap (1975) adalah: (a) Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realities untuk mengajar dengan penemuan, (b) Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa, prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan dipelajarai, (c) Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan, (d) Berkomunikasi dengan siswa akan membantu menjelaskan peranan penemuan, (e) menyiapkan suatu situasi yang mengandung masalah yang minta dipecahkan, (f) Mengecek pengertian siswa tentang maslah yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan, (g) Menambah berbagai alat peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan, (h) memberi kesempatan kepada siswa untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai data harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahan-bahan pokok tersebut, (i) Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum, (j) Memberi kesempatan kepada siswa melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri, (k) memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya, (l) Memimpin analisisnya sendiri melalui percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (m) Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan, (n) Merangsang interaksi siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan data yang terkumpul, (o) Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat yang sederhana, (p) Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar, (q) Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alas an dan fakta, (r) Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri, (s) membantu siswa menulis atau merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan, (t) Mengecek apakah siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.

Sedangkan langkah-langkah menurut Richard Scuhman yang dikutip oleh Suryosubroto (2002:199) adalah : (a) identifikasi kebutuhan siswa, (b) Seleksi pendahuluan terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari, (c) Seleksi bahan, dan problema serta tugas-tugas, (d) Membantu memperjelas problema yang akan dipelajari dan peranan masing-masing siswa, (e) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat yang diperlukan, (f) Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan tugas-tugas siswa, (g) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan, (h) Membantu siswa dengan informasi, data, jika diperlukan oleh siswa, (i) memimpin analisis sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (j) Merangsang terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa, (k) memuji dan membesarkan siswa yang bergiat dalam proses penemuan, (l) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil penemuannya.

Metode discovery memiliki kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan oleh Suryosubroto (2002:200) yaitu: (a) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu, (b) Pengetahuan diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer, (c) Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan, (d) metode ini memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri, (e) metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus, (f) Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan, (g) Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya, (h) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisssisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.

Kelemahan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah: (a) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain, (b) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu. (c) Harapan yang ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudahy biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional, (d) Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan, (e) dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada, (f) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti.

Metode Discovery menurut Rohani (2004:39) adalah metode yang berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru.

Ada lima tahap yang harus ditempuh dalam metode discovery menurut Rohani (2004:39) yaitu: (a) Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik, (b) Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis, (c) Peserta didik mencari informasi , data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis, (d) Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi, (e) Aplikasi kesimpulan atau generalisasidalam situasi baru.

Metode Discovery menurut Roestiyah (2001:20) adalah metode mengajar mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.

Pada metode discovery, situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan pembelajaran menggunakan metode discovery, maka cara mengajar melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

Penggunaan metode discovery ini guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Sehingga metode discovery menurut Roestiyah (2001:20) memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta panguasaan ketrampilan dalam proses kognitif/ pengenalan siswa, (b) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi / individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut, (c) Dapat meningkatkan kegairahan belajar para siswa.

Metode discovery menurut Mulyasa (2005:110) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses daripada hasil belajar.

Cara mengajar dengan metode discovery menurut Mulyasa (2005:110) menempuh langkah-langkah sebagai berikut: (a) Adanya masalah yang akan dipecahkan, (b) Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik, (c) Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas, (d) harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan, (e) Sususnan kelas diatur sedemian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, (f) Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data, (g) Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dengan data serta informasi yang diperlukan peserta didik.

19. Metode Inquiry

Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa , 2003:234).

Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik. Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.

Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Karena itu inquiry menuntut peserta didik berfikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian , melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis.

Langkah-langkah dalam proses inquiry adalah menyadarkan keingintahuan terhadap sesuatu, mempradugakan suatu jawaban, serta menarik kesimpulan dan membuat keputusan yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti. Berikutnya adalah menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru (Mulyasa, 2005:235).

Strategi pelaksanaan inquiry adalah: (1) Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. (2) Memberikan tugas kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran yang dialami siswa. (3) Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik. (4) Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya. (5) Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan (Mulyasa, 2005:236).

Metode inquiry menurut Roestiyah (2001:75) merupakan suatu teknik atau cara yang dipergunakan guru untuk mengajar di depan kelas, dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, kemudian mereka mempelajari, meneliti, atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka di dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan dilaporkan ke sidang pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang pleno kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kesimpulan yang terakhir bila masih ada tindak lanjut yang harus dilaksanakan, hal itu perlu diperhatikan.

Guru menggunakan teknik bila mempunyai tujuan agar siswa terangsang oleh tugas, dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Mencari sumber sendiri, dan mereka belajar bersama dalam kelompoknya. Diharapkan siswa juga mampu mengemukakan pendapatnya dan merumuskan kesimpulan nantinya. Juga mereka diharapkan dapat berdebat, menyanggah dan mempertahankan pendapatnya. Inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya. Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui bersama. Bila siswa melakukan semua kegiatan di atas berarti siswa sedang melakukan inquiry.

Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu : (a) Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik. (b) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. (c) mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka. (d) Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri. (e) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. (f) Situasi pembelajaran lebih menggairahkan. (g) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. (h) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. (i) Menghindarkan diri dari cara belajar tradisional. (j) Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Metode inquiry menurut Suryosubroto (2002:192) adalah perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inqury mengandung proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan, dan sebagainya.

Kesimpulannya, tidak ada satupun metode pengajaran dan penyampain materi ke anak didik yang sempurna. Buktinya, tiap-tiap metode memiliki celah dan kelemahan di sana-sini. Jadi, semuanya tergantung tenaga pendidik dalam mengoptimalisasikan kelebihan yang tersedia serta meminimalisir berbagai kelemahan yang ada pada tiap-tiap metode. Saya yakin, dengan adanya keserasian antara metode yang diterapkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh tenaga pendidik jauh lebih ampuh dalam mencapai hasil optimal dalam proses belajar mengajar ketimbang “sibuk” menerapakan tradisi pengajaran lama yang kurang berbobot dan terkadang begitu monoton!!

Perkembangan Liberalisme dan Kapitalisme Eropa

Perkembangan paham-paham di Eropa semakin hari semakin mengalami kemajuan yang pesat. Dalam hal ini adalah Liberalisme dan Kapitalisme. Liberalisme mempunyai makna positif dan negative tergantung dalam kontek apa menempatkannya. Perkembangan  Liberalisme di Prancis dan Inggris tidaklah sama,masing-masing dengan konteks historisme sendiri-sendiri. Dalam bidang sosial ( menyangkut individu ), liberalisme klasik menciptakan masyrakat yang atomistis yang terdiri dari individu-individu yang tidak mempunyai hubungan satu dengan yang lain. Dalam bidang ekonomi, Liberalisme klasik menciptakan pengusaha dan perusahaan raksasa. Keahlian berkembang menjadi semacam ideology, sehingga amat menentukan kehidupan Negara.

Dalam perkembangannya liberalisme klasik menuai badai yang ditaburkannya, prakteknya kontra produktif, kebebasan individu yang ingin dilindungi justru digerogoti sendiri. Sejarah akhirnya memaksa liberalisme klasik harus dibongkar menjadi liberalisme demokratis yaitu liberalisme yang mampu melindungi individualitas setiap orang dan memanusiakan manusia.

Begitu pula dengan faham Kapitalisme yang selalu mendapat tanggapan pro dan kontra dalam perkembangannya. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai Liberalisme dan Kapitalisme serta perkembangannya di Eropa.

Libereralisme

  1. a.   Pengertian

Dalam kehidupan sehari-hari, kata Libereralisme mempunyai dua pengertian ( arti positif dan arti negatif ).

  1. Arti Positif

Liberalisme dalam arti positif adalah faham yang menjunjung tinggi kemerdekaan batin, yang menolak segala macam pembatasan ( berlawanan dengan faham determinisme dan naturalisme ).

  1. Arti Negatif

Dalam arti negatif, Liberalisme adalah faham yang mengajarkan sikap orang untuk berbuat semaunya, keluar dari norma yang berlaku dan pemberontakan terhadap hal-hal yang tradisional. Cara lain untuk melihat Liberalisme adalah dengan menempatkannya dalam konteks yang tepat. Konteks-konteks tersebut adalah :

  • Konteks Personal

Liberalisme dalam konteks personal ingin mengatakan bahwa para penganut liberalism atau orang liberal adalah orang yang mempunyai sikap, ara berpikir, mentalitas yang kritis terhadap adat-istiadat, tradisi dan konvensi. Ia tidak mau terikat pada yang sudah dditetapkan atau yang sudah mapan, tetapi terbuka kepada kemungkinan-kemungkinan lain yang menurut pertimbangan akalnya akan lebih baik dan bermanfaat. Dalam arti ini liberalism merupakan suatu “ method” dan bukan suatu ajaran , doktrin ataupun ideologi.

  • Konteks Ekonomi

Liberalisme dalam konteks ekonomi ingin mengatakan bahwa hidup perekonomian merupakan bidang yang harus dikembangkan sesuai dengan kodrat manusia yang bebas, sehingga perekonomian itu memang seharusnya berdasar atas prinsip pasar bebas ( free market). Artinya semua hubungan ekonomi tercipta oleh pasar bebas ; campur tangan dari pihak manapun tidak dibenarkan.

  • Konteks Politik

Liberalisme dalam konteks politik mengandung makna menentang segala bentuk pemerintahan yang otoriter, seperti dalam monarkhi absolute atau diktatur. Faham ini mencurigai segala bentuk kuasa karena kuasa cenderung berkembang menjadi semakin besar dan menindas, maka harus diberi harus di beri saluran dan dibatasi. Konstitusi adalah pembatasan bagi kekuasaan. Dasar filosofisnya adalah pandangan bahwa manusia individual itu tercipta dengan hah-hak yang tidak dapat diambil oleh orang lain.

Akar-akar Liberalisme

Kata liberalisme untuk pertama kali dipakai di Spanyol tahun 1811 sebagai sebutan untuk pengaturan Negara secara Konstitusional sebagai pengaruh Revolusi Perancis zaman Napoleon. Liberalisme baru benar-benar mulai berkembang kira-kira pada abad ke-14, tahap akhir abad pertengahan dan awal zaman Renaissance, dengan munculnya golongan baru yaitu Bourjuis. Selama berabad-abad struktur masyrakat terbagi menjadi tiga golongan: Rohaniawan, Bangsawan, dan Rakyat. Status tercipta karena system kepemilikan tanah sehingga hidup perekonomiannya terpusat pada mereka yang mempunyai tanah yang tinggal di manor ( kastil atau istana bangsawan ). Yang kemudian dikenal manorial economy. Tetapi ketika kerajinan atau Industri perumahan dan perdagangan mulai berkembang, manorial economy beralih ke Money economy dengan pusat kegiatan ekonomi di kota-kota.

  1. 1.     Liberalisme di Perancis
  2. a.     Liberalisme dalam periode Restorasi di Perancis 1815-1830

Revolusi Perancis telah menghapus kelas pengusa dari struktur masyrakat Perancis. Kelas itu adalah kaum bangsawan dan gerejawan tinggi. Sejak tahun 1792 mereka melarikan diri dari Perancis dan mengungsi ke Negara-negara yang memusuhi Revolusi ( seperti Inggris dan Australia ). Tetapi selama pemerintahan Napoleon ( 1799-1814 ) mereka berangsur-angsur pulang ke Perancis dan setelah sampai di tanah airnya mereka menjadi kelas yang terasing.

Menurut perjanjian Cartar 1814, Napoleon dikalahkan dan diasingkan ke pulau Elba, sedangkan wilayah Eropa berstatus Quo seperti sebelum 1792.  Carter ini merupakan konstitusi liberal yang dihadiahkan oleh Louis XVIII kepada bangsa Perancis, sehingga Raja dapat mencabutnya  kembali. Setelah Napoleon meninggal di pulau St. Helena, Charter dan Louis direhabilitasi kembali pada tahun 1815. Maka Charter ini sering disebut 1815.

Revolusi 1789 telah membelah bangsa perancis menjadi dua, yaitu golongan konservatif yang ingin kembali ke situasi sebelum Revolusi dan golongan Revolusioner yang bercita-cita melanjutkan Revolusi karena dianggap Revolusi belum selesai. Golongan Revolusioner ini mempunyai dua sayap yaitu Golongan Radikal dan golongan Borjuis ( golongan doctrinaire).

Charter 1814 merupakan kemenangan bagi klas borjuis (upper middle class). Dimana golongan dotrainer(Borjuis) ini mempunyai cita-cita :

  1. Pembagian kekuasaan yang tegas

Kekuasaan Legislatif adalah kekuasaan membuat undang-undang dan undang-undang harus dimaklumkan sehingga semua warganegara mengetahuinya. Undang-undang yang tidak dimaklumkan tidak harus ditaati. Kekuasaan yudikatif mempunyai hak untuk menilai adil tidaknya suatu undang-undang tertentu. Maka badan ini harus benar-benar independent tidak dibawahkan atau dipengaruhi olek kekuasaan yang lain.

  1. Kekuasaan harus dapat dikontrol oleh rakyat supaya rakyat dapat menjalankan fungsi kontrolnya, maka harus ada kebebasab pers, kebebasan untuk berpikir, berbicara, berserikat. Sensor atas pers tidak dapat dibenarkan, karena keberengusan pers akan melindungi keburukan penguasa.
  2. Otonomi badan-badan pemerintah daerah dan lokal

Pemerintahdi daerah dan pemerintah lokal harus di beri otonom untuk mengurus kepentingan masing-masing. Kekuasaan pusat harus dibatasi, kepentingan-kepentingan konkret daerah dan lokal  tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pemerintah pusat.

  1. Bentuk Federalisme

Pemerintah swa-praja setempat diberi otonomi sendiri atas kepentingan-kepentingannya yang khas, tetapi pemerintah pusat menempatkan fungsionaris-fungsionarisnya. Para fungsionaris dari pusat itu ditentukan oleh pemerintah pusat dengan persetujuan pemerintah daerah.

  1. Hak untuk mengadakan perlawanan terhadap penindasan. Hak ini hak untuk untuk resistence to oppression. Dengan kegigihan mereka membela Charter 1814 kaum borjuis liberal ini sebenatnya sudah menjadi konservatif ( Reggiero, 1927 : 171). Mereka berusaha mempertahankan status quo dan perolehan mereka selama revolusi.
    1. b.       Masa Setelah Revolusi

Ada sejumlah sebab yang membangkitkan reaksi golongan liberal yaitu

  1. Undang-undang pemilihan diperbaharui: milik sebagai syarat bagi hak memilih dilipatkan sehingga semakin sedikit yang dapat memilih wakil di legislative akibatnya memperkokoh kedudukan golongan ultra royalis.
  2. Memberikan ganti rugi kepada golongan émigré sebanyak satu milyar franz, biaya diambil dengan memotong bunga uang simpanan golongan borjuis dalam bentuk surat-surat obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
  3. Pembredelan semakin ketat terhadap penerbitan golongan liberal. Sekolah-sekolah dikembalikan pada yayasan gereja : Ordo Yesuit boleh kembali.

Ciri-ciri monarkhi konstitusional masa Louise Phillipe 1830-1848 :

  1. Raja berdaulat ”atas rahmat Tuhan dan atas kehendak bangsa Prancis ”.
  2. Syarat untu mendapatkan hak pilih diperlunak, jumlah milik/kekayaan diperkecil sehingga jumlah orang yang dapat memilih dan di pilih jumlahnya semakin besar. Jumlah pemilih naik dari 100 ribu menjadi 240 ribu.
  3. Badan Legislatif hanya terdiri dar satu kamar, Majelis Bangsawan / Majelis Tinggi di hapuskan dan diganti dengan Senat.
  4. Garda Nasional dibentuk ; sensor atas pers di hapus : anggaran biaya untuk keagamaan dihapus ; beberapa ordo kebiaraan dilarang ; pendidikan merupakan monopoli pemerintah.
  1. c.        Liberalisme Klasik

1)     Aristokrasi baru

Liberaisme klasik dimulai pada pemerintahan Louis Philipe sampai sebelum perang Prancis-Prusia yaitu 1870-1871. Hubungan sosial yang bersifat feudal  diganti dengan hubungan yang bersifat ekonomis. Pada masa Louis Philipe Negara dianggap identik dengan pemerintah. Hal ini terlihat dalam :

a)     Adanya undang-undang yang membatasi kebebasan pers, supaya tidak mengkritik rezim liberal ini.

b)     Hak pilih dibatasi denag property qualifications; tertutup kemungkinan untuk memberlakukan hak pilih bagi semua orang.

c)     Undang-undang dikeluarkan oleh Assemblee National selalu mengarah pada kepentingan usaha kaum borjuis.

2)     Revolusi 1848

Pada tahun 1845-1848 situasi social-ekonomi di Prancis amat buruk hal ini disebabkan karena:

a)       Secara ekonomi

  • Pertanian paceklik dan gagal panen.
    • Industri terjadi over produksi, kredit macet, PHK yang mengakibatkan pengangguran besar-besaran.

b)       Secara Sosial

  • Buruh diradikalisir oleh golongan petite bourgeoiseie yang tidak mendapatkan tempat dalam pemerintahan kaum bourjuis liberal.
  • Kaum buruh bourjuis kecil dan buruh jumlahnya besar tapi mereka tidak dapat memperjuangkan kepentingan mereka.
  • Kaum komunis mulai mempengaruhi kaum buruh sehingga menyebabkan kekhawatiran kaum liberal bourjuis kecil.

3)     Pemerintahan Louis Napoleon

Pada masa ini golongan bourjui liberal tetap bertahan meskipun ada oposisi darei borjuis kecil (bersekutu dengan buruh ), golongan sosialis dan komunis. Pada tahun1848 kelompok borjuis liberal menyodorkan konstitusi baru kepada Louis Napoleon yang isinya:

  • Prancis menjadi Republik Demokrasi.
  • Badan  Legislatif terdiri dari satu kamar.
  • Pemegang kekuasaan Eksekutif adalah Presiden dengan masa jabatan empat tahundan dipilih secara  langsung oleh rakyat dalam pemilu.

Namun dalam perkembangnya  Louis Napoleon mengalami kesulitan dalam parlemen karena 2/3 angota parlemen terdiri dari golongan royalis borjuis.

  1. d.       Liberalisme Demokrasi

Kaum liberalis Prancis berkeyakinan bahwa demokrasi adalah system pemerintahan yang paling rasional. Hal ini terlihat dalam konstitusi baru 1875 yaitu :

a)   Hak pilih untuk semua laki-laki dewasa.

b)   Badan perwakilan dipilih lewat pemilu.

c)   Senat dan badan perwakilan merupakan badan legislative yang bergabung dalam Asemblee Nationale yang berhak membuat undang-undang.

  1. 2.     LIBERALISME DI INGGRIS.

1)     Inggris periode 1815-1830

Golongan konservatif ( Partai Tory) mendominasi pemerintahan pada awal abad-19. Keadaan ekonomi inggris dikuasai oleh kaum bangsawan. Di Inggris terdapat dua jenis bangsawan yaitu;

  • Bangasawan besar; wilayahnya besar secara otomatis menjadi anggota house of lords, menduduki kursi secara turun temurun.
  • Bangsawan kecil; bersama orang bermilik menjadi anggota house of cammons, dipilih lewat pemilu.

Di Inggris tidak terjadi sentralisasi karena letak geografisnya adalah kepulauan. Awal abad ke-19 aristokrasi menguasai parlemen Inggris. Ketika terjadi perang Inggris-Perancis berdampak pada Inggris yaitu:

a)       Terjadi depresi ekonomi yang amat parah, dalam wujud jatuhnya harga-harga dan pengangguran.

b)        Perekonomian bersandar semata-mata pada pertanyaan

c)       Rakyat semakin terhimpit yang menyebabkan timbulnya berbagai kerusuhan. Kaum buruh menganggap mesinlah yang menyebabkan kesengsaraan mereka.

2)     Kebangkitan kaum liberal/Whig

Revolusi Juli 1830 di Perancis juga berpengaruh di Inggris. The ruling class di Inggris yang berhaluan liberal mulai melancarkan usaha untuk memajukan kepentingan mereka dengan programnya:

a)   Menerapkan prinsip-prinsip liberal dalam bidang ekonomi

b)   Memenuhi tuntutan buruh untuk mendapatkan jaminan social dan hak-hak politis.

3)     Liberalis klasik dan kelompok intelektual Radikal

Perumus teori liberalism Ingris adalah kaum filsuf radikal yaitu:

a)       Jeremy Bentham (1748-1832)

b)       David Ricardo (1772-1823)

c)       Thomas Malthus (1766-1834)

d)       James Mill (1733-1836); ayah John Stuart Mill (1806-1873)

Pertama faham mereka bersifat rasional yang menghendaki masyarakat di reformasi, diperbaiki berdasarkan suatu konsep yang rasional dengan cara pendidikan bagi seluruh rakyat dan perundangan yang adil serta demokratis. Kebijakan pemerintah selama kaum liberal mendominasi parlemen;

1)   Reform Act 1832

Reform Act merupakan tanda kemenangan kaum liberal. Tokoh-tokoh faham free light liberalism ekonomi merupakan intelektual yang radikal antara lain; Malthus (soal kep[endudukan), Ricardo (upah buruh) yang sangat berpengaruh terhadap kebijakan pemerintahan ingris. Menurut faham ini; orang yang bebas dalam masyarakat kontraktual adalah orang yang dilepaskan dari kewajiban-kewajiban dan perlindungan yang berasal dari status pada golongan tertentu. Undang-undang yang dikeluarkan oleh kaum liberal antara lain;

  • Wakil-wakil dibrough yang telah kosong dikurangi dan diserahkan kepada pusat-pusat industry (Mancester dan Birmingham).
  • Hak pilih didasarkan atas kualifikasi.

Motivasi ekonomis tampak jelas bahwa bila perbudakan diteruskan, maka yang diuntungkan adalah para pengusaha. Dengan sistemperbudakan para pengusaha tidak mengeluarkan biaya, karena tenaga kerja murah.

2)   Factory Laws 1833

Anak-anak usia 9-13 tahun hanya boleh bekerja  9 jam perhari, dua hari merupakan hari untuk bersekolah. Anak-anak usia 13-18 tahun hanya boleh bekerja 12 jam perhari, malam tidak dibenarkan untuk bekerja.

3)   New Poor Laws 1834

Dengan undang-undang ini buruh menjadi barang dagangan. Kaum liberal yakin pasar akan menentukan harga komoditi. Prinsipnya biarkan mereka yang tidak bekerja tidak makan.

4)     Liberalism Demokrasi dan Welfare

Ketika liberalism klasik banyak mendapat serangan dan kritik, mereka terpecah terlebih mengenai imoperialisme, perdagangan bebas dan soal irlandia utara.liberalisme klasik telah menghasilkan pengusaha raksasa, konglomerat besar, dan ternyata menghancurkan kebebasan individual, hal ini diluar perhitungan kaum liberal. Pengkritik liberalism klasik adalah Thomas Hill Green, melalui karyanya Lectures on the principles of political Obligation, yang menegaskan bahwa tugas terpenting dari Negara adalah menjadi saran bagi terciptanya common good. Bila commond good tercipta oleh Negara, individual good akan tercipta juga sebagai konsekuensinya. John Stuart Mill memajukan leberalisme demokrasi lewat Considerations on Representative Government. Menurutnya Universal Suffrage harus dijalankan supaya pemerintahan tidak hanya pemerintahan oleh kaum bermilik semata. Menurut Mill, kemiskinan yang dialami oleh para buruh bukan semata karena hokum alam, melainkan kesalahan manusia yang membuat distribusi tidak adil. Karena  itu serikat buruh perlu didukung untuk kesejahteraan dan tingkat pendidikan yang lebih baik.

John Stuart Mill mengajukan argumen yang lebih mendukung pemerintahan berdasarkan demokrasi liberal. Dia mengemukakan tujuan utama politik ialah mendorong setiap anggota masyarakat untuk bertanggung jawab dan menjadi dewasa. Hal ini hanya dapat terjadi manakalah mereka ikut serta dalam pembuatan keputusan yang menyangkut hidup mereka. Oleh karena itu, walaupun seorang raja yang bijaksana dan baik hati, mungkin dapat membuat putusan yang lebih baik atas nama rakyat dari pada rakyat itu sendiri, bagaimana pun juga demokrasi jauh lebih baik karena dalam demokrasi rakyat membuat sendiri keputusan bagi diri mereka, terlepas dari baik buruknya keputusan tersebut.

ciri-ciri ideologi liberal sebagai berikut :

  • Demokrasi  merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
  • Anggota  masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
  • Pemerintah  hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.
  • Kekuasaan  dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin dibatasi.
  • Suatu  masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian besar individu berbahagia. Kebaikan  suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya. Ideologi liberalisme ini dianut di Inggris dan koloni-koloninya termasuk Amerika Serikat.

Ciri-ciri ekonomi liberal

a)     Semua sumber produksi adalah milik masyarakat individu.

b)     Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi.

c)     Pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi.

d)     Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja (buruh).

e)     Timbul persaingan dalam masyarakat, terutama dalam mencari keuntungan.

f)      Kegiatan selalu mempertimbangkan keadaan pasar.

g)     Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonomi.

h)     Biasanya barang-barang produksi yang dihasilkan bermutu tinggi.

Keuntungan  dari suatu sistem ekonomi liberal, yaitu:

a)     Menumbuhkan inisiatif dan kreasi masyarakat dalam mengatur kegiatan ekonomi, karena masyarakat tidak perlu lagi menunggu perintah/komando dari pemerintah.

b)     Setiap individu bebas memiliki untuk sumber-sumber daya produksi, yang nantinya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian.

c)     Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat.

d)      Menghasilkan barang-barang bermutu tinggi, karena adanya persaingan semangat antar masyarakat.

e)      Efisiensi dan efektivitas tinggi, karena setiap tindakan ekonomi didasarkan motif mencari keuntungan.

Kelemahan sistem ekonomi liberal, adalah:

a)     Terjadinya persaingan bebas yang tidak sehat bilamana birokratnya korup.

b)     Masyarakat yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

c)      Banyak terjadinya monopoli masyarakat.

d)     Banyak terjadinya gejolak dalam perekonomian karena kesalahan alokasi sumber daya oleh individu

e)     Pemerataan pendapatan sulit dilakuka karena persaingan bebas tersebut

Negara-negara penganut paham liberal di Eropa adalah Albania, Armenia, Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Cyprus, Republik Cekoslovakia, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Islandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luxembourg, Macedonia, Moldova, Netherlands, Norwegia, Polandia, Portugal, Romania, Rusia, Serbia Montenegro, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Switzerland, Ukraina dan Inggris. Negara penganut paham liberal lainnya adalah Andorra, Belarusia, Bosnia-Herzegovina, Kepulauan Faroe, Georgia, Irlandia dan San Marino.

  1. 2.   Kapitalisme
    1. a.       Pengertian

Istilah “kapital” pertama kali muncul pada abad-12, yang mempunyai arti: dana, persediaan barang, sejumlah uang dan bunga uang pinjaman. Pada abad ke-18 istilah kapital diartikan sebagai modal produktif, karena uang memang digunakan untuk menghasilkan barang-barang yang dijual untuk memperoleh keuntungan secara bebas. Menurut Peter Berger, inti kapitalisme terletak dalam memproduksi barang untuk pasar melalui kerja individu atau usaha bersama dalam upaya memperoleh laba. Menurut Maurice Dobb, kapitalisme diartikan sebagai paham yang mengajarkan bahwa dalam bidang ekonomi berlaku dalam persaingan bebas dan jujur dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang terus menerus bagi semua orang. Sedangkan menurut Lyman Tower Sargent, kapitalisme dipahami sebagai sistem ekonomi dengan ciri sebagai berikut:

a)   Pemilikan kekayaan secara pribadi yang tidak terbatas.

b)   Tidak ada pembatasan untuk memgumpulkan kekayaan.

c)   Pemerintah tidak campur tangan dalam pengelolaan sistem ekonomi pasar bebas.

Max Weber, kapitalisme menjadi dua yaitu, kapitaisme irrasional dan kappitalisme rasional. Kapitalisme rasional adalah kapitalisme yang dengan berbagai metodenya terus mengembangkan produktivitas ekonomi agar mendapat laba sebesar mungkin. Oleh karena itu, kapitalisme rasional disebut kapitalisme produktif. Sedangkan kapitalisme irrasional/politik yaitu penguasa atau negara memperoleh keuntungan dengan menjarah kekayaan orang lain dengan kekerasan, menarik upeti/pajak. Kedua bentuk kapitalisme tersebut mempunyai persamaan yaitu kegiatan yang mendominasi atau memeras pihak lain untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Esensi kapitalisme, menurut ekonom Italia yang bernama F. Vita yaitu:

a)       Adanya kebebasan dalam memilih kegiatan ekonomi.

b)      Pemilikan secara pribadi atas sarana-sarana produksi.

c)       Adanya persaingan bebas dalam bidang ekonomi.

Ciri-ciri dasar kapitalisme menurut sosiolog Nicholas Albercombrie yaitu:

a)       Pemilikan dan kontrol atas alat-alat produksi, khususnya kapital oleh swasta.

b)      Pengerahan kegiatan ekonomi kearah pembentukan laba.

c)       Adanya sistem pasar yang mengatur semua kegiatan bebas.

d)      Pemotongan laba untuk pajak.

e)       Penyediaan tenaga kerja oleh buruh yang bertindak sebagai pilihan bebas.

Dawam Raharjo menyimpulkan bahwa esensi kapitalisme yang tetap dan sama untuk semua bentuk kapitalisme adalah modal/kapital. Modal diartikan bukan saja stok barang, mesin, uang atau kekayaan dalam bentuk apapun melainkan akumulasi hasil kerja dimasa lalu yang belum digunakan dan dapat di investasikan kembali untuk mencari keuntungan baik dengan cara kapitalisme rasional maupun kapitalisme irrasional.

Stanislav Andreski membedakan bentuk kapitalisme kuno dan modern yaitu:

a)       Pemilikan atas semua sarana fisik sperti tanah, mesin,dll, sebagai milik usaha industrial.

b)      Kebebasan pasar yang mengandaikan  tidak adanya pembatasan irrasional atas perdagangan.

c)       Perhitungan-perhitungan untung rugi yang membutuhkan teknologi (perhitungan pemanfaatan modal disertai administrasi, manajemen, hukum dan system peradilan).

  • BUDAYA BARAT DAN SEMANGAT KAPITALIS

Menurut Max Weber dan kawan-kawan, produk kapitalisme tidak lepas dari liberalisme dan individualisme yang pondasinya merupakan budaya barat yaitu yudaisme, kekristenan, yunani, romawi kuno. Dalam tradisi Yudaisme Allah di hayati oleh orang Israel sebagai pribadi yang transenden dan dihadapann-Nya manusia dipandang sebagai pribadi yang individual, yang harus mempertanggungjawabkan dirinya. Dalam tradisi Yunani kuno individu yang otonom, yang gagah beraninya mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya dihadapan para penuntutnya. Dalam agama kristiani (protestan) merupakan sumber invidualisme. Menurut Max Weber, semangat kapitalisme berasal dari asketis Calvinis dan budaya barat.

  1. b.   Perkembangan

Munculnya kapitalisme masih menjadi pro dan kontra dikalangan sejarawan karena ada yang mengatakan kapitalisme muncul ketika gejala-gejala perubahan pasar dan masyarakat abad pertengahan dengan kota-kota, gilda-gilda dan kantor dagang sebagai tempat perkembangan awal kapitalisme. Kapitalisme sebagai sistem perekonomian merupakan fenomena historis yang terbentuk secara bertahap dalam proses yang panjang dan sulit. Esensi kapitalisme dari waktu ke waktu adalah sama  yaitu akumulasi modal yang akan di investasikan kembali untuk mendapatkan laba dan karenanya diperlukan pasar bebas serta penguasaan sarana-sarana produksi.

1)      Kapitalisme abad pertengahan

Gejala kapitalisme yang nampak pada akhir abad pertengahan yaitu:

a)       Ketika ekonomi uang mulai mengeser ekonomi barter seperti dikawasan Italia Utara khususnya Flanders yang merupakan pusat industri berbagai jenis kain, menjadi pusat manufaktur.

b)       Munculnya kota-kota serta gilda-gilda dan perdagangan khususnya setelah Perang Salib seperti Firence, Milano, Venesia, Brusells, Amsterdam,dll.

c)       Munculnya sistem perbankkan modern di Italia Utara yang kemudian meluas ke Eropa. Oleh karena itu, masyarakat sudah terbiasa dengan surat kredit,deposito, transfer lewat bank,dll.

Menurut Dillard, ada 3 faktor yang mempercepat pembentukkan modal pada tahap awal kapitalisme yaitu:

a)       Dukungan agama Calvinis bagi kerja keras dan hidup hemat.

b)       Masuknya logam-logam mulia dari dunia baru (Asia,Afrika, Amerika) yang berpengaruh pada upah laba dan harga.

c)       Negara membantu pembentukkan modal sebab kerajaan besar seperti Inggris, Perancis,Spanyol menjalankan system ekonomi Merkantilisme.

2)      Kapitalisme Modern

Kapitalisme modern ditandai pergeseran kegiatan ekonomi perdagangan ke ekonomi industry. Pertama kali muncul di Inggris pada abad-18, kemudian di Perancis, Jerman, Italia pada abad-19 dan akhirnya seluruh Eropa abad-20.

Menurut Berger, ciri-ciri ekonomi industrial adalah:

a)       Semua alat produksi material menjadi milik pribadi

b)       Kebebasan pasar terbuka lebar

c)       Tersedia teknologi yang memacu aktivitas ekonomi

d)       Tersedia system hokum yang rasional

e)       Mobilitas tenaga buruh secara bebas

f)        Terjadi komersialisasi ekonomi tanpa batas.

g)       Menggunakan system akutansi yang rasional

Perkembangan kapitalisme mencapai kejenuhannya pada awal abad-20, sebab setelah PD I dan II perkembangan kapitalisme Eropa mengalami titik balik. Eropa tidak lagi menjadi pusat perekonomian dunia karena bergeser ke Amerika. Filsafat pasar bebas mulai ditanggal dan Negara mulai campur tangan dalam menentukan perekonomian masyarakat. Contohnya di Italia dan Jerman, Mussolini dan Hitler mulai menasionalisasi industri-industri dasar untuk menghidupkan kembali perekonomian, demikian juga Inggris melakukan hal yang sama setelah partai buruh berkuasa.

Pada tahun 1930 terjadi resesi (kelesuan) ekonomi dunia yang oleh para pakar ekonomi menyatakan bahwa hal itu disebabkan oleh kegagalan para ahli ekonomi dalam membangun dan menata suatu pasar sempurna. Ciri-ciri pasar sempurna yaitu:

a)       Jumlah produsen dan konsumen berpartisipasi besar di pasar. Dengan demikian kegiatan ekonomi menjadi efisien, kemudian dibentuklah GATT yang kemudian menjadi WTO.

b)       Adanya pengukuran dan pembandingan, produktifitas dan kreatifitas secara terus menerus bagi para produsen sebagai pelaku pasar (kompetisi).

c)       Kompetisi harus sama kuat tidak berat sebelah dengan demikian terjadi keseimbangan dalam hal memperoleh keuntungan.

Menurut Lester Throw ada lima perubahan dalam system ekonomi, teknologi dan politik dunia abad-21 yang telah menyebabkan fenomena evolusi dipercepat adalah:

a)        Berakhirnya sistem komunisme (1990-an)

b)        Pergeseran kearah teknologi industri yang padat pengetahuan: dalam era kedua yaitu: abad ke-19 dan 20.

c)        Struktur demografi manusia: populasi dunia terus bertambah, lebih sering berpindah dan semua menjadi tambah lanjut usia

d)        Munculnya ekonomi global: kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi yang menyebabkan semua produk dapat dibuat dan dijual dimana saja.

e)        Adanya system ekonomi dunia dimana tidak ada satu Negara pun yang dapat mendominasi: aturan berdagang selalu ditentukan oleh Negara-negara yang mendominasi perdagangan dunia.

Prinsip-prinsip Kapitalisme

  • Mencari keuntungan dengan berbagai cara dan sarana kecuali yg terang-terangan dilarang negara karena merusak masyarakat seperti heroin dan semacamnya.
  • Mendewakan hak milik pribadi dengan membuka jalan selebar-lebarnya agar tiap orang mengerahkan kemampuan dan potensi yg ada utk meningkatkan kekayaan dan memeliharanya serta tidak ada yg menjahatinya. Karena itu dibuatlah peraturan-peraturan yang cocok untuk meningkatkan dan melancarkan usaha dan tidak ada campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi kecuali dalam batas-batas yg yg sangat diperlukan oleh peraturan umum dalam rangka mengokohkan keamanan.
  • Perfect Competition .
  • Price system sesuai dengan tuntutan permintaan dan kebutuhan dan bersandar pada peraturan harga yang diturunkan dalam rangka mengendalikan komoditas dan penjualannya.

Bentuk Kapitalisme

  • Kapitalisme perdagangan yg muncul pada abad ke-16 setelah dihapusnya sistem feodal. Dalam sistem ini seorang pengusaha mengangkat hasil produksinya dari satu tempat ke tempat lain sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian ia berfungsi sebagai perantara antara produsen dan konsumen
  • Kapitalisme industri yg lahir krn ditopang oleh kemajuan industri dengan penemuan mesin uap oleh James Watt tahun 1765 dan mesin tenun tahun 1733. Semua itu telah membangkitkan revolusi industri di Inggris dan Eropa menjelang abad ke-19. Kapitalisme industri ini tegak di atas dasar pemisahan antara modal dan buruh yakni antara manusia dan mesin.
  • Sistem Kartel yaitu kesepakatan perusahaan-perusahaan besar dalam membagi pasaran internasional. Sistem ini memberi kesempatan untuk memonopoli pasar dan pemerasan seluas-luasnya. Aliran ini tersebar di Jerman dan Jepang.
  • Sistem Trust yaitu sebuah sistem yg membentuk satu perusahaan dari berbagai perusahaan yg bersaing agar perusahaan tersebut lbh mampu berproduksi dan lbh kuat utk mengontrol dan menguasai pasar.